Sejarah Raja jawa dan Hindu

Bagi yang senang sejarah Raja jawa dan Hindu, ini ada sedikit ringkasan sejarah yang saya baca di forum sebelah entah dapat dari mana si penulis itu, saya juga tidak tahu keakuratannya. Bagi saya ini sangat layak dibaca siapa tahu ada versi – versi yang lain sebagai pembanding dari kebenaran sejarah tersebut. Yang akan saya posting secar bersambung, nah ini yang pertama..

Sejarah Kepulauan Indonesia umumnya dan Tanah Jawa khususnya, ditemukan dari beberapa sumber yang agak berlainan satu dengan yang lain.

Menurut keterangan yang didapat dalam Kitab Djojobojo, sebagian Tanah Jawa tadinya adalah sebuah pulau kosong yang angker dan sangar, dimana sama sekali belum ada penduduk manusianya.

Sementara menurut sejarah yang berdasarkan atas pendidikan, bahwa antara 2000 tahun yang telah lampau dipulau ini sudah ada penduduk aslinya, hanya pikiran mereka belum terbuka, hingga masih merupakan orang purba yang belum mengerti tata susila, belum mengerti caranya membuat rumah dan belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. Mereka masih menggunakan batu yang dipertajam guna senjata untuk memburu maupun untuk berkelahi.
Hidupnya adalah sangat sederhana dan selalu pindah kesana-kemari, hingga agak mirip dengan hidupnya burung atau yang didalam Kitab Djojobojo dikatakan Zman Kukilo.

Lain sumber juga mengatakan, bahwa pada zaman Chun Ch’lu, antara 500 – 600 tahun sebelum Christus, Tiongkok berada didalam keadaan yang luar biasa kacaunya. Mulai dari Ping Wang tahun ke 49 sehingga Chin Wang tahun ke 39, yang sama sekali meminta tempo 242 tahun. Api peperangan yang mendasyat senantiasa menimpa Tionkok hingga rakyatnya merasa hidup dalam terror. Oleh karena itu beberapa kelompok orang-orang disana berduyun-duyun menuju ke Tjempa. Ditempat inipun mereka merasa tidak aman karena gangguan terrorisme dari “The Reign of Terror” dilain pihak, maka mereka berduyun-duyung bersama menaiki perahu Djong untuk menuju keselatan dengan pikiran nekat dan kepercayaan mantap bahwa akhirnya mesti mendapat tempat guna berlindung.

Demikianlah akhirnya diantara ribuah perahu Djong tadi sebagian ada yang mendarat di Philipina, sebagian ada yang mendarat di Borneo, Malay Peninsula, Sumatera dan sebagian pula ada yang mendarat di Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Di tempat-tempat tersebut, mereka segera tercocok tanam dan beternak, akan tetapi lambat lain pakaian mereka telah habis rusak, hingga terpaksa cara berpakaian mereka seperti pada waktu zaman purba di Tiongkok, sehingga setelah ditemukan kapas dan randu kapok di hutan-hutan yang mereka jadikan benang, barulah mereka dapat membuat alat tenun yang primitive sekali guna menenun dengan cara amat sederhana.

Menurut sumber itu, diterangkan juga bahwa asal-usul penduduk Tanah Jawa memang sebagian dari Hindu dan sebagian pula dari Tiongkok.

Untuk membuktikan kebenarannya, kita dapat membedakan antara penduduk asli dikepulauan Indonesia umumnya terdiri dari sua type yaitu disatu fihak typenya Hindustania, kulitnya agak hitam jengat / sawo matang dengan matanya tidak sipit; tetapi dilain tempat tidak sedikit yang berkulit kuning langsat, matanya agak sipit, banyak mirip atau malah 100% seperti orang Tionghoa, hingga dalam masyrakat tidak jarang terjadi diantara orang Indonesia sendiri menyangka bahwa orang yang berhadapan dengan dirinya itu dikira orang Tionghoa. Hanya model pakaianya atau gigi pangur saja yang
digunakan sebagai tanda guna membedakannya.

Pada zaman itu Tanah Jawa diselumbungi udara Animisme begitu rupa. Banyak orang suka memuja apa yang dipandangnya suci, suka sekali perihatin untuk menjalani ilmu-ilmu gaib dan kuat bertapa yang mempunyai pengaruh begitu mujizad.

Misalnya walaupun justru udara bersih, matahari bersinar terang gelang-gemilang di atas angkasa yang biru, tetapi tiba-tiba datang seorang yang telah dipuncak pertapaannya, setelah berdiri dibawahnya sinar matahari sambil mencakupkan kedua tangannya dan berdoa sambil kedua matanya dimeramkan dan mendongkakan kepalanya, maka tidak lama kemudian awan mendung sekoyong-koyong bergulung-gulung begitu tebal dan sebentar pula hujan turun dibarengi suara angin menderu dan suara petir menyambar-nyambar kian kemari, hingga seolah-olah dunia sedang kiamat.

Demikianlah apa yang dikejar orang dalam jaman itu adalah “kedikjayaan”, sedang hal kemajuan lahir atau kekayaan lahir sama sekali tidak dimengerti.

Masa itu Tanah Jawa merupakan suatu pulau yang amat kaya raya dengan kekayaan alam, yang sangat menarik perhatiannya perantau-perantau bansa Hindu, hingga kemudian berduyun-duyun datang kemari untuk berdagang dan untuk Bantu membuka pikiran rakyat yang masih diliputi oleh alam gelap, dan memimpin mereka untuk bercocok tanam, pertanian dan peternakan, sampai pula pada pemerintahan.

Oleh karenanya maka pengaruhnya kesopanan dan kebudayaan Hndu di Indonesia umumnya dan Tanah Jawa khususnya dapat disejajarkan denan pengaruh kesopanan dan kebudayaan dari bangsa Romeinen diseluruh Europe.

Antara rombongan bansa Hindu yang datang kemari, terdapat juga keturunan dari Warman Dynasty, yang selanjutnya diangkat menjadi Raja Hndu di Pulau Jawa yang pertama-tama, dengan memakai nama Kerajaan Tarumanegara, sedangkan Raja tersebut bergelar Purna Warman.

Selain di Pulau Jawa, daerah lainpun seperti Kutai, Sukadana, Palembang dan lain-lain bagian dari kepulauan Indonesia mereka mengangkat juga raja-raja yang diangkat bangsa Hindu turunan dari Warman guna memerintah daerah-daerah yang dikunjungi.

Waktu itu agama Hindu yang berkembang pertama kali adalah Brahmanisme, dimana tingkat derajat profesi manusia terbagi menjadi empat golongan.
Golongan pertama adalah Brahmana, ialah terdiri dari kaum Pendeta yang dipandang sebagai kaum cardinal.
Golongan kedua adalah Satriya, ialah terdiri dari kaum Bangsawan.
Golongan ketiga adalah Wasea, ialah terdiri dari kaum dagang, petani, tukang dan pekerjaan yang agak tinggi.
Golongan keempat adalah Sudra, ialah tediri dari kaum buruh rendah dan kaum budak.

Jadi pada saat itu sudah terjadi system pendidikan yang professional untuk masing-
masing profesi yang dibagi menjadi empat golongan profesi dalam masyarakat. Sama halnya dengan jurusan professional dalam pendidikan moderen sekarang ini.

Tapi system golongan professional ini tidak berjalan mulus karena golongan Sudra sering mendapat perlakuan tidak adil, yang begitu nyata membedakan tingkatan dan kaum.
Lantaran adanya penyelewengan pelaksanaan system golongan professional ini maka tidak heran Agama Buddha dapat disambut dengan hangat sekali dari penduduk di Pulau Jawa, hingga bergantinya Agama Brahmanism ke Agama Buddha yang terjadi dengan sangat damai.

Pada Masehi tahun 414, Fahian, perantau bansa Tionghoa yang termasyur, telah tiba di pulau ini bersama empat orang kawannya. Mereka selain menjadi orang-orang Tionghoa pertama menginjakkan kakinya di sini dan terus menurunkan keturunannya sehingga merupakan sebagian golongan Tionghoa peranakan yang sebagai bangsa Asing, kecuali bangsa Hindu yang pertama kali datang di pulau ini.

Menurut diary (catatan harian) dari Fahian, bahwa asal usulnya nama Pulau Jawa itu disatu fihak ada yang mengatakan berasal dari syairnya Ramayana, seorang Hindu (pendekar penyair) dalam bahasa Sanscrit yang telah hidup antara 300 tahun sebelum Christus, dimana antaralain dalam sjair itu telah menguraikan “Jawadwipa”, yang artinya : Jawa = Pahala, dan Dwipa = Pulau, sehingga “Jawa Dwipa” yang telah menjadi namanya pulau ini adalah membawa arti “Pulau dari Pahala” atau “Pulau Jasa”.

Sementara menurut fihak lain ada dikatakan, bahwa waktu pertama kali bansa Hindu datang kemari telah melihat tetanaman Juwawut, semacam bahan makanan, juga dijual dipasar untuk bahan makanan burung perkutut piaraan, yang bumbuh begitu subur dan gemuk sekali dipulau ini, sehingga pulau ini dinamakan Juwawut dan penduduknya dinamakan Juwana.

Kemudian oleh rombongan Tionghoa tadi, karena kata-kata Juwana mengandung suara huruf “Ju” = “Kasar” atau “Rendah kwalitasnya”, bahkan karena suara itu ditekan agak keras menjadi suara “Jao” = “Bau Busuk” atau “Orang yang rusak moralnya”, maka untuk menandai pelayaran Confucius tentang Tjiang Sim Pi atau teposeliro, orang Tionghoa merubah kata “Juwana” menjadi “Wana” yang bukan saja menjadi kata lebih singkat, tetapi artinya lebih baik bagi orang Tionghoa umumnya dan golongan lain-lain yang mengerti huruf dan bahasa Tionghoa.
Sebutan “Wana” terhadap penduduk Pulau Jawa khususnya dan kepulauan Indonesia umumnya memiliki arti : Tanah yang subur; tetumbuhan yang tumbuh dengan subur; dan kaya raya.
Sebutan “Wana” terhadap penduduk asli dari Tanah Jawa khususnya dan Indonesia umumnya itu jelas sudah bukan berarti ejekan atau hinaan, karena maksud yang benar dari kata-kata tersebut tak lain dan tak bukan adalah : Orang dari negeri yang tanahnya subur atau kaya.

Lebih jauh dari keterangan tersebut, bukan saja orang-orang Tionghoa dalam zaman itu tidak suka menghina golongan bangsa lain, bahkan sudah begitu hati-hati untuk menjaga
agar supaya dalam kata-katanya tidak sampai menyinggung perasaannya golongan bangsa lain, yang mana terbukti dihapuskannya suara kata “Jao” yang diartikan kurang baik.

Sementara bukti atas kebenaran bahwa penduduk asli dikepulauan ini disebut Juwana, adalah dengan adanya nama kota Juwana, suatu tempat di daerah Jawa Tengah terletak antara Pati – Rembang.

Menurut penuturan dalam zamannya Dempoawang (Sam Poo Twa Lang) waktu ia sampai ditempat yang dimaksud diatas lalu menayakan kepada seorang penduduk asli nama tempat tersebut, tetapi oleh penduduk setempat menyangka tamu yang datang menayakan kebangsaanya (maklum belum bisa bahasa Melayu yang sekarang disebut bahasa Indonesia serta jarang ketemu orang Asing), maka dijawablah “Juwana”.
Oleh karena itu maka tempat tadi selanjutnya disebut Juwana hingga saat ini menjadi perkampungan Nelayan yang sukses di Kabupaten Pati.
Jaman Kerajaan Hindu

Pada abad ke VI kembali serombongan bangsa Hindu datang kemari, dimana mereka telah mendarat di daerah Jawa Tengah.

Kemudian rombongan ini terpencar dan masing-masing mendirikan kerajaan sendiri-sendiri, dimana tiap kerajaannya diangkatnya seorang Hindu yang dipandang pantas untuk menjadi raja.

Antara lain kerajaan-kerajaan tersebut berada di Dieng, Kedu, Juwangi, Proto, Jepara dan dibeberapa tempat lainnya.

Pengaruh kesopanan/kesusilaan, dan kebudayaan Hindu di Tanah Jawa menjadi kian hari kian besar dan luas. Berbareng dengan itupun agama Buddha makin lama makin merata diantara rakyat jelata dari segala golongan dan lapisan.

Pada Masehi tahun 944 dari negeri Hindu telah mendarat kemari seorang menteri, ialah Empu Sindok, yang mendarat di Jawa Timur dan mendirikan Kerajaan Keuripan disebelah selatannya Surabaya, dimana ia mengangkat dirinya sendiri menjadi Radja dengan memakai gelar Raja Mataram.

Memang tadinya beliau adalah seorang perdana menteri yang cakap, adil dan bijaksana,

maka tidak mengherankan kalau Kerajaan itu dalam tempo singkat saja telah mendapatkan kemajuan pesat, hingga daerah kerajaan Keuripan menjadi makin kuat, luas dan makmur. Kerajaan Keuripan itu ketimur sampai Bali, kebarat utara sampai Pasuruan dan kebarat selatan sampai Kediri.

Sementara itu kemajuan agama Buddha yang paling gilang-gemilang di Tanah Jawa adalah mulai dari Masehi tahun 1100-1400, yang merupakan masa emas (golden days) dari agama tersebut dikepulauan ini.

Dalam kurung waktu ini juga telah tecipta candi-candi : Prambanan, Mendut, dan Borobudur, yang sebagai kemajuan agama Hindu dan Buddha. Hal ini juga sebagai lambang kebesarannya architecture bangsa Timur pada jaman itu.

Kerajaan ini semakin makmur dan jaya setelah sampai pada Masehi tahun 1042, dimana Erlangga, keturunan dari Empu Sindok, memegang tachta. Raja ini bukan saja telah memajukan dan menyempurnakan tata tertibnya pemerintahannya, kesopanan, kebudayaan, agama, perniagaan, dan pengairan, serta memajukan/menghidupkan kesusastraan Jawa aseli. Saat ini orang mulai mencatat segala sesuatu, menulis surat-menyurat sampai menulis buku dan sebagainya dalam bahasa Jawa aseli.

Dalam jaman Raja Erlangga yang adil dan bijaksana ini orang telah menulis Mahabarata, Ramayana dan Arjunawiwaha dalam bahasa dan huruf Jawa.

PRABU JOYOBOYO

Hanya sayang setelah Raja Erlangga wafat, karena disebabkan oleh adanya pemberontakan, maka kemakmuran dan kemuliaan Kerajaan Keuripan menghadapi kemunduran yang hebat.

Kerajaan ini menjadi sama berdiri sendiri-sendiri, hingga merupakan kerjaan kecil-kecil.
Antara begitu banyaknya daerah yang sama berdiri menjadi kerajaan sendiri adalah Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala yang paling ternama.

Dalam Kerajaan Kediri ini sususastraan Jawa mendapatkan kemajuan yang pesat sekali, terutama setelah sampai pada jamannya Prabu Joyoboyo dalam abad ke XII, beliau telah menulis Kitab Joyoboyo yang begitu termashur dan menjadi jangkanya (periode jaman besar) Tanah Jawa hingga pada jaman modern ini, serta tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang sekarang telah tercapai ini sedikit banyak pengaruh dari Kitab Joyoboyo yang ditulis oleh seorang pujangga dan raja dalam abad ke XII .

Dalam Masehi tahun 1104 didalam Istana Kerajaan Kediri telah terdapat dua orang pujangga yang pandai, ialah Triguna yang telah menulis kitab-kitab Sumasantana dan Krisnayana, dan Empu Darmaja yang telah menulis kitab Sinardahana.
Selain kedua pujangga tersebut pada Masehi tahun 1157 ada pula Empu Sindok dan Penuluh yang telah sama menulis Kitab Baratajuda dan Mahabarata dalam bahasa Jawa-kuna.

Berdasar dari sejarah tersebut serta mengingat pada abhad ke XX dimana banyak diterbitkannya kitab-kitab bahasa Jawa oleh Boekhandel Tan Khoen Swie, Kediri, beliau telah membantu perkembangan kesusastraan dan kebudayaan Jawa dengan pesatnya. Maka banyak orang dapat menarik kesimpulan bahwa Kediri adalah menjadi suatu tempat pusat perkembangan dan kemajuan kesusastraan Jawa !

Kerajaan Kediri itu makin berkuasa dan berpengaruh, sehingga sampai raja yang terakhir dari kerjaaan tersebut adalah Kertajaya.
Semantara Dynasty Empu Sindok telah habis sampai pada Masehi tahun 1222. Bersambung……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: